Home Apa Kabar Madiun PT. KA Segera Operasikan Kereta Ekonomi Ber-AC Tahun Ini
PT. KA Segera Operasikan Kereta Ekonomi Ber-AC Tahun Ini
Sabtu, 21 Januari 2012 05:19

Keinginan masyarakat untuk menikmati kenyamanan dalam KA Ekonomi akan segera terwujud. Itu seiring sinyalemen PT KA yang akan segera mengoperasikan KA ekonomi ber-AC untuk KA Kertajaya dan Matarmaja. Pengoperasian ini akan dilakukan semester pertama tahun ini. Manajer Humas PT KA Daops 8 Surabaya, Sri Winarto menjelaskan, pihaknya memang berusaha memberi kenyamanan pada penumpang KA, baik yang menggunakan komuter, Kertajaya atau Matarmaja.

Maka dari itu, layanan gerbong ber-AC akan diberikan pada pengguna KA untuk kelas ekonomi. Penumpang di kelas ekonomi tetap mendapat kenyamanan tak kalah dengan yang di kelas bisnis dan eksekutif, terangnya. Untuk saat ini, PT KA masih menunggu kiriman gerbong KA ber-AC itu. Gerbong AC itu saat ini masih dikerjakan oleh PT. Inka Madiun.
Pada tahun ini, proses finishing sedang dilakukan teknisi di PT Inka. Untuk KA komuter, nanti akan disediakan satu set yang terdiri atas empat gerbong ber-AC. Lalu untuk KA Kertajaya (Sby-Jkt) dan KA Matarmaja (Mlg-Jkt), juga disediakan satu set, yang terdiri atas delapan KA penumpang, satu KA makan, satu KA pembangkit, dan satu KA khusus barang. “Saat ini masih di PT Inka.

Kami menargetkan semester satu ini bisa terealisasi. Realisasi ini bisa untuk komuter dulu, baru KA Kertajaya dan Matarmaja, atau juga bersamaan,” paparnya. Mengenai pelaksanaan KA ber-AC, pihaknya menegaskan jika jumlah seat tiap gerbong lebih sedikit dibandingkan yang non AC.
Contohnya pada komuter, dimana untuk yang non AC sebanyak 106 seat. Tapi untuk yang AC sejumlah 75 seat. Namun yang pasti, pihaknya tetap akan menerapkan KA AC dan non AC secara bersamaan. “Yang KA non AC tetap jalan, meski sudah ada KA yang AC. Namun untuk tarifnya memang sedikit lebih mahal dari yang non AC. Tapi besarannya tetap lebih murah daripada kelas bisnis,” katanya.


PT. KA BERLAKUKAN BEBERAPA KEBIJAKAN NON-POPULIS


Pedagang Asongan Dilarang Berjualan di atas Kereta.

Mulai 2012, PT KA berusaha membuat para pengguna jasa moda transportasi kereta bisa dilayani secara baik dan nyaman, walaupun melalui beberapa kebijakan yang bersifat non populis. Setelah memberlakukan penghapusan tiket berdiri untuk kereta jarak jauh, baik untuk kelas eksekutif, bisnis maupun ekonomi, sejak awal januari 2012, seluruh pedagang asongan diseluruh wilayah PT. Kereta Api Indonesia dilarang berjualan didalam rangkaian kereta api baik yang berhenti maupun yang berjalan.

Sejak adanya larangan berjualan di dalam gerbong bagi pedagang asongan, PT KA menggelar razia untuk KA kelas ekonomi sejak 1 Januari hingga saat ini. Dari hasil razia itu, PT KA Daops 8 Surabaya baru menangkap lima pedagang yang kepergok jualan. Manajer Humas PT KA Daops 8 Surabaya, Sri Winarto menjelaskan, pihaknya berusaha menjalankan aturan yang sudah diterapkan akhir 2011 itu. Dalam surat dari manajemen PT KA, setiap pedagang asongan dilarang berjualan dalam gerbong selama dalam perjalanan. “Makanya itu, kami memang secara rutin merazia pedagang asongan di beberapa KA ekonomi jarak jauh dan dekat,” jelasnya. Meski dipergoki, namun pedagang asongan itu hanya diberi pengertian saja dan setelah itu dilepas tanpa ada sanksi. Tak banyaknya pedagang yang berjualan selama dalam perjalanan, mungkin juga karena mereka mulai mengerti aturan itu,” tegasnya.

Tarif Reduksi Anak Dihapuskan.

Selain terbebas dari pedagang asongan, kereta api kelas ekonomi kini juga menerapkan kebijakan baru, menghapus tarif reduksi atau potongan harga tiket untuk anak. Sebelumnya mereka mendapat potongan sebesar 20 persen dari tarif dewasa. Manajer Humas PT KAI Daop VII Madiun, Sugianto mengatakan, pihaknya sudah menyosialisasikan kebijakan yang diberlakukan sejak Januari 2012 lalu.

Dengan dihapusnya tarif reduksi bagi anak, PT KAI menerapkan tarif yang sama kepada semua penumpang. Tujuannya, agar penumpang anak juga mendapat jatah tempat duduk laiknya orang dewasa. Sebelumnya anak terkadang duduk satu kursi dengan ibunya, ujar Sugianto. Penghapusan reduksi tersebut, lanjut Sugianto, sebelumnya sudah diberlakukan untuk kelas eksekutif. Sedangkan, untuk kelas bisnis, tarif reduksi anak masih diberlakukan. Secara umum penghapusan reduksi tidak berpengaruh signifikan, paparnya. Sugianto mengungkapkan, penghapuskan reduksi tersebut tidak akan memberatkan penumpang. Karena selama ini, tarif dewasa dan anak tidak terpaut banyak, yakni selisih sekitar Rp 5 ribu.

Selain penghapusan reduksi, sesuai kebijakan direksi sejak Desember 2011 lalu, PT KAI juga memberlakukan dua sistem tarif tiket. Yakni tarif parsial yang diberlakukan sesuai jarak tempuh. Sedangkan system kedua pemberlakukan Origin Distation (OD), dari lokasi keberangkatan hingga tujuan akhir. Tahun lalu masih diberlakukan tarif untuk jarak pendek, ungkapnya.
Dengan pemberlakuakn tarif itu, penumpang harus membayar harga tiket hingga batas atas, meski hanya melakukan perjalanan dalam jarak pendek. Di antara tarif kelas ekonomi yang mengalami penyesuaian harga yakni KA Kahuripan jurusan Kediri-Bandung.

Dilarang Merokok dalam Kereta.

PT. KA rupanya berusaha menciptakan lingkungan udara di kereta lebih bersih. Itu terkait dengan adanya aturan baru di seluruh KA kelas ekonomi hingga eksekutif, dimana penumpang dilarang merokok dalam kereta selama perjalanan. Kebijakan ini berlaku efektif mulai 1 Januari 2012. Manajer Humas PT KA Daop 8 Surabaya Sri Winarto menjelaskan, setelah mengeluarkan kebijakan okupansi 100 persen penumpang kereta jarak jauh (tak ada penumpang tanpa tempat duduk) dan mengubah jadwal, mereka melarang penumpang merokok di setiap perjalanan kereta. Kecuali di kereta yang dilengkapi gerbong khusus untuk tempat makan (restoran KA) atau yang biasa disebut kereta makan. “Saat ini, kereta makan hanya ada di sebagian kereta kelas eksekutif,” tuturnya. Di restoran KA eksekutif itu ada ruang khusus untuk merokok yang dilengkapi filter penyedot asap. “Restorasi di kereta kelas ekonomi dan bisnis, separo bagian untuk tempat duduk penumpang. Karena belum tersedia smoking area, merokok di situ tetap dilarang,” jelasnya.

Kebijakan itu untuk memberikan kenyamanan kepada penumpang lainnya. Aturan itu berdasarkan teleks Direksi PT KA nomor D6/120 tentang larangan merokok di ruangan KA sebagai ruangan publik. Kereta api merupakan salah satu fasilitas umum yang dapat terikat aturan larangan merokok maupun kawasan terbatas merokok. Puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan kebakaran di dalam kereta. Dengan terbitnya surat dari kantor pusat di Bandung itu, penumpang kelas ekonomi dan bisnis yang biasanya berpindah ke gerbong restorasi untuk sekedar merokok, sementara waktu tidak bisa lagi. Bagaimana terhadap penumpang yang bandel? “Petugas menegur dulu. Kalau tidak diindahkan, kami tidak segan-segan menurunkan di stasiun terdekat,” tuturnya.

Sosialisasi larangan merokok di sebagian besar kereta terus dilakukan perusahaan pelat merah itu. Agar aturan itu bukan sekedar lips service, pihaknya berkomitmen mulai dari petugas yang termasuk golongan perokok berat. “Kami juga sosialiasikan larangan pedagang asong di dalam kereta secara bertahap. Semoga sesama penumpang bisa saling mengingatkan,” urainya.

“Kalau masih ditemukan penumpang merokok, langsung ditindak saja dan diturunkan di stasiun terdekat. Saya minta kepada petugas supaya bertindak tegas,” kata Dirut PT KA, Ignatius Jonan. PT KA sudah memberlakukaan kebijakan larangan merokok di dalam KA mulai 1 Januari 2012. Aturan tersebut dibuat dengaan harapan, penumpang KA bisa nyaman selama menggunakan jasa perjalanan KA. “Saya juga perokok berat, tapi kalau memang ada larangan merokok, ya saya berusaha mentaati. Masa berhenti merokok berapa jam saja tidak bisa,” jelas Jonan.

Jika penumpang bandel dan melakukan gugatan hukum, kata Jonan, PT KA siap menghadapinya. “Kami tidak takut digugat secara hukum, bahkan nanti akan kami gugat balik,” tegasnya. Selain akan menindak penumpang yang merokok di dalam KA, Jonan juga meminta supaya penumpang tidak memaksa naik di atas gerbong. “Itu sudah menyalahi aturan dan sangat berbahaya bagi keselamatan. Kalau masih ditemukan, harus ada tindakan dan sanksi,” sambung Jonan.

Sementara itu, Ketua Forum Perkerataapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengapresiasi kebijakan tidak populer itu. “Penumpang akan lebih kerasan lantaran tidak terganggu asap. Apalagi kalau dia perokok pasif,” ujarnya. Idealnya, saran dia, setiap kereta tetap disediakan ruangan khusus bagi perokok. “Tidak ada salahnya ada smoking area bagi para perokok,” pungkasnya.


blog comments powered by Disqus
 




Author

Copyright © Madiun.Info - Komunitas Madiun Onliners